Pendidikan di pesantren menawarkan lebih dari sekadar transfer ilmu pengetahuan; ia adalah sekolah kehidupan yang unik, di mana sistem asrama menjadi kunci dalam menumbuhkan solidaritas dan empati di antara para santrinya. Hidup bersama dalam satu atap, berbagi suka dan duka, serta menghadapi tantangan bersama, secara alami membentuk ikatan persaudaraan yang kuat dan kepedulian mendalam terhadap sesama.

Proses menumbuhkan solidaritas ini dimulai dari rutinitas harian yang komunal. Santri makan bersama, belajar bersama, beribadah bersama, dan bahkan berbagi tugas kebersihan. Ketergantungan satu sama lain dalam menjalankan rutinitas ini secara otomatis menumbuhkan rasa kebersamaan. Misalnya, jika ada santri yang sakit, teman-teman sekamarnya akan bergotong royong menjaganya, membawakan makanan, dan membantu dalam segala kebutuhan. Hal ini mengajarkan empati dan tanggung jawab sosial secara langsung, tanpa perlu diajarkan secara teori di kelas. Di Pondok Pesantren Minhajul Abidin, Karawang, setiap pagi, tepat pukul 05:30, santri secara bergantian menyiapkan sarapan untuk seluruh penghuni asrama, sebuah kegiatan yang melatih kerja sama tim dan kepedulian.

Lebih lanjut, menumbuhkan solidaritas juga diperkuat melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan organisasi santri. Forum-forum ini, seperti kepramukaan, klub debat, atau tim olahraga, menuntut kerja sama dan komunikasi efektif untuk mencapai tujuan bersama. Santri belajar untuk mengesampingkan kepentingan pribadi demi kepentingan kelompok, bernegosiasi, dan saling mendukung dalam kompetisi maupun proyek. Kemenangan dirayakan bersama, dan kekalahan ditanggung bersama, memperkuat ikatan emosional antar mereka. Pada tanggal 7 Juni 2025, dalam ajang kompetisi “Festival Seni Pesantren” di Pondok Pesantren Darul Hikmah, Tasikmalaya, tim nasyid dari asrama Cendana menunjukkan semangat solidaritas yang tinggi saat membantu teman mereka yang tiba-tiba sakit sebelum tampil, dan akhirnya tetap tampil memukau.

Peran kiai dan pengurus juga sangat vital dalam menumbuhkan solidaritas dan empati. Mereka sering menekankan pentingnya ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dan nilai-nilai tolong-menolong dalam setiap ceramah dan bimbingan. Mereka juga berperan sebagai fasilitator saat terjadi konflik, mengajarkan santri untuk menyelesaikan masalah dengan musyawarah dan saling memaafkan. Lingkungan yang didasari nilai-nilai agama ini menjadi inkubator bagi perkembangan emosional dan sosial santri. Bahkan, pada hari Rabu, 19 Maret 2025, sekitar pukul 10:00 pagi, seorang petugas dari Polsek Karawang Barat, Bapak Bripka Dede, mengunjungi Pondok Pesantren Minhajul Abidin untuk bersilaturahmi dengan pimpinan pesantren dan memberikan penyuluhan tentang pentingnya menjaga kerukunan dan menghindari perpecahan di kalangan santri.

Melalui kehidupan berasrama yang komunal, kegiatan bersama, dan bimbingan nilai-nilai keagamaan, pesantren berhasil menumbuhkan solidaritas dan empati yang mendalam pada diri santrinya. Mereka tidak hanya lulus dengan bekal ilmu agama, tetapi juga dengan karakter sosial yang kuat, kepedulian terhadap sesama, dan kemampuan untuk beradaptasi serta berkontribusi positif dalam masyarakat yang lebih luas. Pengalaman hidup di pesantren ini menjadi fondasi yang kokoh bagi mereka untuk menjadi individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berhati mulia.