Selama ini, banyak yang beranggapan bahwa belajar Al-Qur’an dan Hadis di pesantren hanyalah soal menghafal. Namun, kenyataannya jauh lebih dari itu. Pesantren memiliki metode pembelajaran yang holistik dan mendalam, yang tidak hanya berfokus pada hafalan teks, tetapi juga pada pemahaman makna, pengamalan, dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah laporan dari Kementerian Agama Republik Indonesia yang dirilis pada hari Rabu, 17 Desember 2025, mencatat bahwa pemahaman kontekstual Al-Qur’an dan Hadis yang diajarkan di pesantren adalah kunci untuk melawan paham radikalisme. Artikel ini akan mengupas tuntas cara pesantren mendidik santri agar memiliki pemahaman agama yang utuh.
Salah satu metode yang paling fundamental adalah sorogan dan bandongan. Dalam metode sorogan, santri secara individu menghadap seorang kiai atau ustadz untuk membaca dan menghafal teks-teks Al-Qur’an atau Hadis. Kiai atau ustadz akan mengoreksi bacaan, tajwid, dan hafalan mereka secara langsung. Metode ini menciptakan hubungan personal yang kuat antara guru dan murid, memastikan setiap santri mendapatkan perhatian penuh. Sementara itu, dalam metode bandongan, kiai akan membacakan dan menerjemahkan kitab, sementara santri mendengarkan dan membuat catatan. Metode ini efektif untuk mengajarkan pemahaman teks secara kolektif dan mendalam. Kedua metode pembelajaran ini telah digunakan selama berabad-abad dan terbukti efektif. Dalam sebuah wawancara dengan seorang pengasuh pesantren yang dipublikasikan pada hari Jumat, 26 Desember 2025, ia menyatakan, “Metode tradisional ini mengajarkan santri tentang kesabaran, ketekunan, dan adab terhadap guru. Ini adalah fondasi dari semua ilmu.”
Selain metode tradisional, pesantren kini juga mengadopsi pendekatan modern untuk mempermudah pemahaman. Banyak pesantren menggunakan teknologi, seperti aplikasi tafsir digital dan program pencarian Hadis, untuk membantu santri dalam penelitian dan pendalaman. Namun, teknologi ini tidak menggantikan peran guru, melainkan melengkapinya. Tujuannya adalah untuk membekali santri dengan alat yang relevan untuk berdakwah dan belajar di era digital. Metode pembelajaran ini memungkinkan santri untuk memiliki pemahaman yang lebih luas dan terkini tentang isu-isu kontemporer yang relevan dengan Islam. Sebuah laporan dari Pusat Penelitian Pendidikan Islam yang dirilis pada hari Selasa, 6 Januari 2026, mencatat bahwa penggunaan teknologi dalam pembelajaran agama dapat meningkatkan minat santri dan efektivitas pembelajaran.
Lebih dari sekadar teknik mengajar, pesantren juga menekankan pengamalan. Santri tidak hanya diminta untuk menghafal dan memahami, tetapi juga mengamalkan apa yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai seperti kejujuran, kasih sayang, dan pengabdian kepada sesama ditanamkan melalui praktik rutin, seperti gotong royong dan kegiatan sosial. Bahkan dalam sebuah kasus yang melibatkan investigasi kepolisian pada hari Kamis, 22 Januari 2026, seorang petugas forensik dapat memberikan analisis ahli tentang etika dan karakter santri, berdasarkan informasi yang diberikan oleh gurunya. Hal ini membuktikan bahwa metode pembelajaran di pesantren tidak hanya membentuk intelektual, tetapi juga individu yang berakhlak mulia dan bermanfaat bagi masyarakat.
