Duka mendalam yang menyelimuti para korban bencana alam di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kalimantan memantik gelombang kepedulian dari berbagai kalangan masyarakat, termasuk lingkungan pesantren. Sebagai bentuk empati dan kepedulian spiritual yang mendalam, pelaksanaan ibadah doa ghaib digelar secara khusyuk untuk mendoakan para korban yang meninggal dunia serta memberikan kekuatan rohani bagi keluarga yang ditinggalkan. Langkah ini menjadi wujud solidaritas tanpa batas yang menghubungkan rasa persaudaraan kebangsaan melalui jalur spiritual.
Rangkaian ibadah diawali dengan pelaksanaan salat jenazah tanpa kehadiran fisik jasad, diikuti dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an serta zikir bersama yang dipimpin oleh para ulama dan pimpinan pesantren. Ratusan santri beserta masyarakat sekitar menyatu dalam barisan saf yang rapi, memanjatkan harapan agar para korban yang wafat mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Suasana khidmat dan haru menyelimuti seluruh ruangan, mencerminkan ketulusan hati para jamaah dalam mengiringi doa bagi saudara-saudara mereka di daerah terdampak musibah.
Selain memanjatkan doa untuk korban yang telah berpulang, jamaah juga memohonkan keselamatan, ketabahan, serta pemulihan yang cepat bagi warga yang masih bertahan di tempat penampungan pengungsian. Kehadiran spiritualitas yang kuat diyakini mampu menjadi pilar penguat mental, baik bagi masyarakat yang mendoakan maupun bagi mereka yang sedang tertimpa cobaan berat. Kepedulian yang diwujudkan melalui aksi rohani ini membuktikan bahwa jarak geografis tidak menghalangi ikatan persaudaraan dan rasa saling menopang antar sesama anak bangsa.
Aksi kepedulian rohani yang dilaksanakan oleh Ponpes Raudha Tulala ini menjadi bukti nyata komitmen lembaga pendidikan Islam dalam merespons setiap musibah kemanusiaan di tanah air. Tidak hanya fokus pada pembinaan keagamaan internal, pesantren ini senantiasa aktif mengambil peran dalam menggalang empati publik dan solidaritas sosial. Pelaksanaan ibadah bersama ini diharapkan dapat menyalurkan energi positif dan ketenangan jiwa bagi seluruh masyarakat Indonesia yang sedang berduka.
Beriringan dengan pelaksanaan ibadah mendoakan korban, pihak pesantren juga membuka posko penggalangan bantuan materi berupa dana, pakaian layak pakai, serta kebutuhan pokok untuk disalurkan langsung ke lokasi bencana. Sinergi antara aksi spiritual dan bantuan fisik ini menjadi pendekatan holistik dalam membantu proses pemulihan para korban bencana. Keterlibatan aktif seluruh santri dalam aksi sosial ini sekaligus menjadi sarana pendidikan karakter berbasis nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian universal.
Melalui konsistensi kegiatan doa bersama dan aksi nyata di lapangan, semangat kebersamaan bangsa diharapkan dapat terus terjaga dengan kokoh. Kepedulian tulus yang dipanjatkan dari balik dinding-dinding pesantren menjadi pendorong harapan bagi para korban untuk segera bangkit dan menata kembali kehidupan mereka. Keikhlasan serta persatuan seluruh elemen masyarakat merupakan modal utama dalam menghadapi dan melewati masa-masa sulit akibat bencana alam.
