Pesantren memiliki keunikan yang tak tertandingi dalam tradisi pendidikan Islam di Indonesia, terutama melalui Sistem Pengajaran yang telah teruji selama berabad-abad. Dua metode utama yang menjadi tulang punggung transfer ilmu di pesantren adalah Sorogan dan Bandongan. Kedua metode ini bukan sekadar cara penyampaian materi, melainkan sebuah filosofi pendidikan yang menekankan kedekatan emosional antara guru (Kyai atau Ustadz) dan murid (Santri), serta penguasaan materi secara mendalam. Keberhasilan lulusan pesantren dalam menguasai kitab kuning (turats) sebagian besar merupakan bukti keefektifan Sistem Pengajaran tradisional ini.
Metode Sorogan
Sorogan berasal dari kata Jawa sorong, yang berarti menyodorkan. Dalam metode ini, santri menghadap guru secara individual atau dalam kelompok kecil. Santri menyodorkan kitab yang telah disiapkan, membaca, dan menerjemahkan teks tersebut di hadapan guru. Guru kemudian mendengarkan, mengoreksi, dan memberikan penjelasan secara rinci. Sistem Pengajaran Sorogan sangat efektif untuk memastikan penguasaan individu. Melalui Sorogan, guru dapat mendeteksi secara langsung tingkat pemahaman, kesalahan membaca, dan kekurangan tata bahasa (nahwu shorof) setiap santri. Sebagai contoh, di Pondok Pesantren Nurul Huda, Sorogan untuk Kitab Jalalain (tafsir) dilakukan oleh santri senior setiap hari Sabtu pukul 10.00 WIB di serambi masjid, dengan durasi per santri rata-rata 15 menit. Hal ini menunjukkan interaksi yang intensif.
Metode Bandongan
Berbeda dengan Sorogan yang bersifat individu, Bandongan (atau sering disebut Wetonan) melibatkan sekelompok besar santri. Guru membacakan, menerjemahkan, dan menjelaskan isi kitab secara lisan. Sementara itu, para santri mendengarkan dengan saksama dan membuat catatan atau makna gandul (catatan terjemah per kata) di sela-sela baris kitab mereka. Metode ini sangat efisien untuk menyampaikan materi yang banyak kepada ratusan santri dalam waktu singkat. Bandongan juga mengajarkan santri untuk fokus mendengarkan (simak) dan mencatat (qoyyid), keterampilan yang sangat penting dalam pembelajaran. Pada bulan Ramadhan 1446 H (Maret 2025), Kyai dari Pesantren Tebuireng menggelar Bandongan kitab Shahih Bukhari setiap pagi selama 90 menit, yang dihadiri oleh lebih dari 500 santri dan alumni.
Sistem Pengajaran kombinasi Sorogan dan Bandongan adalah kunci utama kurikulum pesantren. Bandongan memberikan cakupan ilmu yang luas dan cepat, sementara Sorogan menjamin penguasaan yang mendalam dan personalisasi pembelajaran. Data dari Lembaga Kajian Pesantren (LKP) di Yogyakarta pada tahun 2023 menunjukkan bahwa lulusan yang secara aktif mengikuti kedua metode ini memiliki tingkat kelulusan ujian tahfidz (hafalan) dan pemahaman teks klasik 20% lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan Bandongan.
Kesimpulannya, Sorogan dan Bandongan adalah dua sisi mata uang yang melengkapi satu sama lain. Melalui Bandongan, ilmu disebarkan secara massal. Melalui Sorogan, ilmu dikukuhkan secara personal. Kedua Sistem Pengajaran khas ini terus menjadi model yang relevan dan terbukti efektif dalam mencetak ulama dan intelektual muslim yang menguasai tradisi keilmuan secara otentik dan mendalam.
