Bulan Ramadan bagi masyarakat umum mungkin identik dengan puasa dan persiapan Idul Fitri, namun bagi warga pesantren, ada satu momen yang jauh lebih menggetarkan jiwa sebelum hari kemenangan tiba, yaitu Tradisi Pudunan. Istilah ini merujuk pada momen kepulangan massal para santri ke kampung halaman masing-masing setelah menyelesaikan pengajian kilat atau “pasaran” selama bulan suci. Memasuki Mudik Lebaran 2026, suasana di berbagai pondok pesantren mulai diselimuti oleh perasaan yang campur aduk. Ada kegembiraan yang meluap karena akan bertemu orang tua, namun terselip kesedihan yang mendalam saat harus berpamitan dengan kiai dan teman sejawat, menciptakan momen Haru Biru Santri yang sangat ikonik.
Secara filosofis, Tradisi Pudunan bukan sekadar ritual liburan sekolah biasa. Ini adalah momen pembuktian bagi seorang santri setelah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, menempa diri di asrama. Sebelum diperbolehkan pulang dalam Mudik Lebaran 2026, biasanya para santri akan mengikuti majelis perpisahan atau doa bersama yang dipimpin langsung oleh pengasuh pesantren. Dalam majelis inilah suasana Haru Biru Santri memuncak. Pesan-pesan kiai agar santri tetap menjaga akhlak dan ibadah di rumah menjadi bekal spiritual yang sangat berharga. Air mata sering kali tumpah saat prosesi jabat tangan (mushafahah) terakhir sebelum mereka melangkah keluar dari gerbang pondok.
Logistik dalam Tradisi Pudunan juga menjadi pemandangan yang unik. Ribuan santri dengan tas besar, kardus berisi kitab, hingga tentengan oleh-oleh khas daerah pondok mulai memadati area parkir bus dan stasiun. Menjelang Mudik Lebaran 2026, koordinasi kepulangan kini sudah jauh lebih modern dengan adanya armada bus bareng yang dikelola oleh organisasi alumni. Namun, esensi Haru Biru Santri tetap tidak berubah; rasa persaudaraan yang kental terasa saat mereka saling membantu mengangkut barang ke atas bus, sambil sesekali melempar candaan terakhir yang menunda kesedihan perpisahan sementara tersebut.
Selain kerinduan pada keluarga, Tradisi Pudunan juga membawa misi dakwah. Para santri yang pulang dalam Mudik Lebaran 2026 diharapkan bisa menjadi “oase” di desanya masing-masing. Tekanan moral untuk menjaga nama baik almamater sering kali membuat momen ini terasa sakral. Fenomena Haru Biru Santri muncul saat mereka menyadari bahwa di rumah nanti, mereka akan dipandang sebagai sosok yang lebih dewasa dan berilmu. Ada tanggung jawab besar untuk memimpin doa atau sekadar memberikan teladan perilaku yang baik di tengah masyarakat, sebuah transisi mental yang cukup menantang bagi para pejuang ilmu ini.
